Selasa, 14 Desember 2010

Batik Lawas: Simbol Kepercayaan Diri

Batik Lawas yang dipertontonkan oleh "peragawati sepuh" ini sudah berumur lebih dari 50 tahun. Tapi lihat, warna yang disandangnya hanya sedikit memudar.Saya kira tak banyak perubahan warna dibandingkan dengan ketika batik tersebut baru turun dari tempatnya dibuat. Jika kita nereproduksinya sekarang, warna barunya relatif akan sama.

Ada beberpa pelajaran yang dismpan oleh produk moyang kita ini. Pertama, pendahulu kita bisa memindahkan imajinya tentang keindahan pada selembar kain dengan sangat baik. Ragam hias yang menempel di kain ini saya kira original nusantara. Batik bergaya Pekalongan ini menampakkan kedalaman senimannya dalam berimajinasi. Ragam hias flora fauna ini nampak begitu cantik dengan gaya dekoratif.

Kedua --ini tentu sangat penting-- kualitas produk ini pasti sangatlah bagus. Selembar kain "jarik" biasanya sering dipakai teritama untuk situasi formal. Kain di atas tentulah sudah berkali-kali dipakai pemiliknya dulu. Malahan, mungkin, sering juga untuk selimut tidur ketika cuaca dingin. Warna yang tidak pudar setelah puluhan tahun tentu menunjukkan bagaimana pendahulu kita memiliki keterampilan baik dalam pewaernaan tekstil. Padahal, pewarna yang dipakainya adalah pewarna alami yang diolah dari berbagai tumbuhan. Bandingkan dengan zaman kita ini, hanya beberapa produsen batik yang masih mau menggunakan pewarna alami. Lama dan mahal, kata mereka. Maka, pilihan penggunaan pewarna tekstil pun jatuh ke pewarna sintetik produk impor.

Ketiga, ada kepercayaan diri yang tinggi  terhadap produk sendiri, produk lokal. Bandingkan dengan saat ini. Begitu rendahnya kepercayaan kita pada produk dalam negri. Para pejabat sloganis. Sembari meneriakkan perintah untuk memakai produk sendiri, mereka sendiri tidak pede kalau tidak memakai produk impor! Padahal kita semua tahu, banyak produk kita yang berkibar di manca negara, meski sering dengan label non Indonesia..

Lalu......?

1 komentar: